Rabu, 22 Juni 2011

KAJIAN TENTANG MOTIVASI BELAJAR


1. Pengertian Motivasi Belajar
Banyak sekali, bahkan sudah umum orang menyebut dengan “motif” untuk menunjukan mengapa seseorang itu berbuat sesuatu[9]. Motif dan motivasi berkaitan erat dengan penghayatan suatu kebutuhan. Kata “motif”, diartikan sebagai daya upaya mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu.
Berawal dari pendekatan kata “motif” tersebut dapat ditarik persamaan bahwa keduanya menyatakan suatu kehendak yang melatarbelakangi perbuatan. Banyak para ahli yang memberikan batasan tentang pengertian motivasi antara lain adalah sebagai berikut:
a.       Mc. Donald yang dikutip oleh Sardiman mengemukakan, motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya “feeling” dan didahulu dengan tanggapan terhadap adanya tujuan[10]
b.      Tabrani Rusyan berpendapat, bahwa motivasi merupakan kekuatan yang mendorong seseorang melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan[11].
c.       Heinz Kock memberikan pengertian, motivasi adalah mengembangkan keinginan untuk melakukan sesuatu[12].
d.      Dr. Wayan Ardhan menjelaskan, bahwa motivasi dapat dipadang sebagai suatu istilah umum yang menunjukkan kepada pengaturan tingkah laku individu dimana kebutuhan-kebutuhan atau dorongan-dorongan dari dalam dan insentif dari lingkungan mendorong individu untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhannya atau untuk berusaha menuju tercapainya tujuan yang diharapkan[13].
e.       Gleitman dan Reiber yang dikutip oleh Muhibbin Syah berpendapat, bahwa motivasi berarti pemasok daya (energizer) untuk bertingkah laku secara terarah[14].
Dari berbagai definisi yang dikemukakan oleh para ahli tersebut diatas, dapat dikatakan bahwa motivasi adalah sesuatu yang kompleks, karena motivasi dapat menyebabkan terjadinya perubahan energi dalam diri individu untuk melakukan sesuatu yang didorong karena adanya tujuan, kebutuhan atau keinginan.
Dalam pembahasan skripsi yang penulis maksudkan adalah motivasi dalam belajar. Oleh karena itu sebelum menguraikan apa itu motivasi belajar terlebih dahulu diuraikan tentang belajar.
Belajar adalah suatu bentuk perubahan tingkah laku yang terjadi pada seseorang. Untuk lebih jelas penulis akan kemukakan pendapat para ahli:
a.       Sumadi Soerya Brata mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan belajar adalah membawa perubahan yang mana perubahan itu mendapatkan kecakapan baru yang dikarenakan dengan usaha atau disengaja[15].
b.      L. Crow dan A. Crow, berpendapat bahwa pelajaran adalah perubahan dalam respon tingkah laku (seperti inovasi, eliminasi atau modifikasi respon, yang mengandung setara dengan ketetapan) yang sebagian atau seluruhnya disebabkan oleh pengalaman. “pengalaman” yang serupa itu terutama yang sadar, namun kadang-kadang mengandung komponen penting yang tidak sadar, seperti biasa yang terdapat dalam belajar gerak ataupun dalam reaksinya terhadap perangsang-perangsang yang tidak teratur, termasuk perubahan-perubahan tingkah laku suasana emosional, namun yang lebih lazim ialah perubahan yang berhubungan dengan bertambahnya pengetahuan simbolik atau ketrampilan gerak, tidak termasuk perubahan-perubahan fisiologis seperti keletihan atau halangan atau tidak fungsinya indera untuk sementara setelah berlangsungnya pasangan-pasangan yang terus menerus[16].

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa perubahan itu pada dasarnya merupkan pengetahuan dan kecakapan baru dalam perubahan ini terjadi karena usaha, sebagaimana firman Allah SWT. Dalam surat Ar-Ro’du ayat 11 yang berbunyi:
إن الله لا يغيّر ما بقوم حتىّ يغيّروا ما بأنفسهم. (الرعد:   )
Artinya : Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaanya sendiri[17].

Setelah penulis menguraikan defenisikan motivasi dalam belajar, maka dapat diambil pengertian bahwa yang dimaksud dengan motivasi belajar adalah suatu daya upaya penggerak atau membangkitkan serta mengarahkan semangat individu untuk melakukan perbuatan belajar.
Untuk dapat mendalami dan mempunyai suatu gambaran yang mendalam serta jelas mengenai motivasi belajar, maka hal ini penulis kemukakan menurut para cerdik pandai mengenai motivasi belajar, yaitu:
Menurut H. Mulyadi menyatakan bahwa motivasi belajar adalah membangkitkan  dan memberikan arah dorongan yang menyebabkan individu melakukan perbuatan belajar[18].
Dan menurut Tadjab, motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan kegiatan belajar itu demi mencapai suatu tujuan.[19]
Sedangkan menurut Sadirman, motivasi belajar adalah merupakan faktor psikis yang bersifat non intelektual, peranan yang luas adalah dalam hal menimbulkan gairah, merasa senang dan semangat untuk belajar, siswa yang memeliki motivasi kuat, akan mempunyai banyak energi unuk melakukan kegiatan belajar [20].
Dari pendapat ahli diatas penulis penulis mempuyai pemahaman bahwa yang dimaksud dengan motivasi belajar adalah motivasi yang mampu memberikan dorongan kepada siswa untuk belajar dan melangsungkan pelajaran dengan memberikan arah atau tujuan yang telah ditentukan.

2. Indikasi Motivasi Belajar

a.       Perasaan tertarik

Kurt Singer mengatakan bahwa sejak semula dunia ini menunjukkan suatu karakter yang bersifat mengajak bagi seorang anak. Artinya dunia ini memperlihatkan dirinya dengan cara yang menarik, memikat.[21]
Begitu juga dengan pelajaran, seorang siswa mempunyai  rasa  tertarik  pada  pelajaran  SKI,  maka  ia  akan senang hati untuk                              mengikuti pelajaran SKI tersebut, sebaliknya  kalau  siswa  tidak  mempunyai  rasa  tertarik,  maka enggan  untuk  mengikuti  bahkan  malas  untuk  mengerjakan tugas-tugas pelajaran SKI.

b.      Motif
Motif dalam bahasa inggrisny motive”   dari   kata motionyang  berarti  gerakan  atau  sesuatu  yang  bergerak. Motif  dalam  psikologi  berarti  rangsangan,  dorongan,  atau pembangkit  tenaga  bagi  terjadinya  suatu  tingkah  laku.[22] Jadi kata motif diartikan sebagai daya upaya  yang  mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu.
Menurut Singgih Dirgagunarsa, motif adalah factor dalam yang dapat merangsang perhatian.[23]
Sedangkan menurut Soemadi Soerjabrata, motif adalah keadaan dalam pribadi orang yang mendorong individu untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu guna mencapai tujuan.[24]
c.  Perasaan senang
Antara minat dengan perasaan senang terdapat hubungan timbal balik, sehingga  tidak  mengherankan  kalau peserta didik yang berperasaan tidak senang juga akan kurang berminat dan sebaliknya.[25]
Perasaan senang merupakan aktivitas psikis yang di dalamnya subjek menghayati nilai-nilai dari suatu objek.[26]
Orang yang mempunyai perasaan senang terhadap mata pelajaran SKI tentu akan berusaha untuk mendapatkan hasil yang baik dan semangat untuk mengikuti pelajaran SKI.
d.      Perhatian
Menurut Wasty Soemanto perhatian dapat diartikan menjadi dua macam:
1)      Perhatian yaitu pemusatan  tenaga / kekuatan jiwa tertuju kepada suatu objek-objek
2)      Perhatian adalah pendayagunaan kesadaran untuk mengerti sesuatu aktivitas.[27]
Sedangkan menurut Agus Sujanto, perhatian adalah konsentrasi / aktivitas jiwa kita terhadap pengamatan, pengertian, dan sebagainya dengan mengenyampingkan yang lain dari pada itu.[28]
Perhatian  dan  minat  dalam  kaitannya  dengan  belajar pendidikan  ejarah Kebudayaan Islam mempunyai hubungan yang erat sekali, karena peserta didik yang menaruh minat dalam bidang studi SKI biasanya cenderung untuk memperhatikan semua materi mulai dari mencatat, mengingat, memahami  dan  mau  bertanya  ketika  belum  paham  tentang materi yang disampaikan, tujuan tercapai sesuai yang dicita-citakan yaitu  mendapatkan hasil yang baik dan optimal, serta dapat mengamalkan  materi pendidikan agama Islam yang di dapat tersebut dalam kehidupan sehari-hari


Diantara indikator yang bisa dijadikan ukuran siswa termotivasi adalah:
a)      Keinginan, keberanian menampilkan minat, kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi ketik belajar.
b)      Keinginan dan keberanian serta kesempatan untuk berpartisipasi dalam kegiatan persiapan, proses dan kelanjutan belajar.
c)      Penampilan berbagai usaha belajar dalam menjalani dan menyelesaikan kegiatan belajar sampai mencapai hasil.
d)      Siswa bergairah belajar.
e)      Kemandirian belajar.[29]
Sardiman memberikan penjelasan ciri-ciri seseorang termotivasi diantaranya:
a)      Tekun menghadapi tugas (dapat bekerja terus menerus dalam waktu yang lama dan tidak berhenti sebelum selesai).
b)      Ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa).
c)      Menunjukkan minat terhadap bermacam-macam masalah.
d)      Lebih senang belajar mandiri.
e)      Cepat bosan dengan tugas rutin (kurang kreatif).
f)        Sering mencari dan memecahkan soal-soal.
g)      Tidak mudah melepaskan hal-hal yang sudah diyakini.
h)      Dapat mempertahankan pendapatnya.
Apabila seseorang memiliki ciri-ciri diatas berarti dia telah memiliki motivasi yang kuat dalam proses belajar mengajar. Ciri-ciri tersebut akan menjadi penting karena dengan motivasi yang kuat siswa akan bisa belajar dengan baik, lebih mandiri dan tidak terjebak pada sesuatu yang rutinitas dan mekanis.[30]

3.  Macam-macam Motivasi
Para ahli psikologi berusaha menggolongkan motivasi yang ada dalam diri manusia atau suatu organisme kedalam beberapa golongan. Dalam hal in Tadjab, dalam bukunya “Ilmu Jiwa Pendidikan” membedakan motivasi belajar siswa dimadrasah dalam dua bentuk yaitu:
a. Motivasi instrinsik
Motivsi instrinsik ialah suatu aktivitas/kegiatan belajar dimulai dan diteruskan berdasarkan penghayatan suatu kebutuhan dan dorongan yang secara mutlak berkaitan dengan aktivitas belajar. Dalam hal ini Sardiman dalam bukunya “Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar”, menjelaskan bahwa motivasi instrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu[31].
Sedangakan Tabrani Rusyan mendefinisikan motivasi instrinsik ialah dorongan untuk mencapai tujuan-tujuan yang terletak didalam perbuatan belajar[32]. Jenis motivasi ini menurut Uzer Usman timbul sebagai akibat dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dari orang lain, tetapi atas kemauan sendiri[33]
Dari definisi-definisi tersebut dapat diambil pengertian bahwa motivasi instrinsik merupakan motivasi yang datang dari diri sendiri dan bukan datang dari orang lain atau faktor lain. Jadi motivasi ini bersifat alami dari diri seseorang dan sering juga disebut motivasi murni dan bersifat riil, berguna dalam situasi belajar yang fungsional.
b. Motivasi Ekstrinsik.
Motivasi ekstrinsik adalah dorongan untuk mencapai tujuan-tujuan yang terletak di luar perbuatan belajar[34]. Dalam hal ini Sumadi Suryabrata juga berpendapat, bahwa motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang berfungsinya karena adanya rangsangan dari luar[35].
Dari definisi ini dapat dipahami bahwa ekstrinsik yang pada hakikatnya adalah suatu dorongan yang berasal dari luar diri seseorang. Jadi berdasarkan motivasi ekstrinsik tersebut anak yang belajar sepertinya bukan karena ingin mengetahui sesuatu tetapi ingin mendapatkan pujian dan nilai yang baik.
Walupun demikian, dalam proses belajar mengajar motivasi ekstrinsik tetap berguna bahkan dianggap penting, hal tersebut sebagaimana dikemukakan oleh S. Nasution bahwa "Dalam hal pertama ia ingin mencapai tujuan yang terkandung didalam perbuatan belajar itu. Sebaliknya bila seseorang belajar untuk mecapai penghargaan berapa angka, hadiah, dan sebagainya ia didorong oleh motivasi ekstrinsik. Oleh sebab itu tujuan tersebut terletak diluar penghargaan itu"[36].
Berangkat dari uraian diatas, dapat diambil pengertian bahwa motivasi instrinsik lebih baik daripada motivasi ekstrinsik. Akan tetapi motivasi ekstrinsik juga perlu digunakan dalam proses belajar mengajar disamping motivasi instrinsik. Untuk dapat menumbuhkan motivasi instrinsik maupun ekstrinsik adalah suatu hal yang tidak mudah, maka dari itu guru perlu dan mempunyai kesanggupan untuk menggunakan bermacam-macam cara yang dapat membangkitkan motivasi belajar siswa sehingga dapat belajar dengan baik.

4. Fungsi - Fungsi Motivasi
Untuk dapat terlaksananya suatu kegiatan, pertama-tama harus ada dorongan untuk melaksanakan kegiatan itu, begitu juga dalam dunia pendidikan, aspek motivasi ini sangat penting. Peserta didik harus mempunyai motivasi untuk meningkatkan kegiatan belajar terutama dalam proses belajar mengajar.
Motivasi merupakan faktor yang sangat penting di dalam belajar sebab motivasi berfungsi sebagai:
a.       Pemberi semangat terhadap seorang peserta didik dalam kegiatan-kegiatan belajarnya.
b.      Pemilih dari tipe-tipe kegiatan-kegiatan dimana seseorang berkeinginan untuk melakukannya.
c.       Pemberi petunjuk pada tingkah laku.
Fungsi motivasi juga dipaparkan oleh Tabrani dalam bukunya “Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar”, yaitu:
a.       Mendorong timbulnya kelakuan atau perbuatan.
b.      Mengarahkan aktivitas belajar peserta didik
c.       Menggerakan dan menentukan cepat atau lambatnya suatu perbuatan.[37]
Sama halnya dengan pendapat yang dikemukakan oleh Sardiman, bahwa ada tiga fungsi motivasi:
a.       Mendorong manusia untuk berbuat.
b.      Menentukan arah perbuatan, yakni kearah tujuan yang hendak dicapai
c.       Menentukan arah perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan[38].
Di samping itu, ada juga fungsi-fungsi lain, motivasi dapat berfungsi sebagai pendorong usaha-usaha pencapaian prestasi. Seseorang melakukan sesuatu usaha karena adanya motivasi. Adanya motivasi yang baik dalam belajar akan menunjukkan hasil yang baik pula. Dengan kata lain bahwa dengan adanya usaha yang tekun dan terutama didasari adanya motivasi, maka seseorang yang belajar itu akan dapat melahirkan prestasi yang baik. Intensitas motivasi seseorang siswa akan sangat menentukan tingkat pencapaian prestasi belajarnya. Dengan demikian motivasi itu dipengaruhi adanya kegiatan.

5. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Motivasi Belajar

Dalam kegiatan belajar mengajar peranan motivasi sangat diperlukan. Motivasi bagi siswa dapat mengembangkan aktifitas dan inisiatif, dapat mengarahkan akan memelihara ketekunan dalam melakukan kegiatan belajar. Dalam kaitannya dengan itu perlu diketahui ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi motivasi belajar, yaitu:
a.       Kematangan
b.      Usaha yang bertujuan
c.       Pengetahuan mengenai hasil dalam motivasi
d.      Partisipasi
e.       Penghargaan dan hukuman[39]
Berikut ini uraian mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi belajar:
a)      Kematangan
Dalam pemberian motivasi, faktor kematangan fisik, sosial dan psikis haruslah diperhatikan, karena hal itu dapat mempengaruhi motivasi. Seandainya dalam pemberian motivasi itu tidak memperhatikan kematangn, maka akan mengakibatkan frustasi dan mengakibatkan hasil belajar tidak optimal.
b)      Usaha yang bertujuan
Setiap usaha yang dilakukan mempunyai tujuan yang ingin dicapai. Semakin jelas tujuan yang ingin dicapai, akan semakin kuat dorongan untuk belajar.
c)      Pengetahuan mengenai hasil dalam motivasi
Dengan mengetahui hasil belajar, siswa terdorong untuk lebih giat belajar. Apabila hasil belajar itu mengalami kemajuan, siswa akan berusaha untuk mempertahankan atau meningkat intensitas belajarnya untuk mendapatkan prestasi yang lebih baik di kemudian hari. Prestasi yang rendah menjadikan siswa giat belajar guna memperbaikinya.
d)      Partisipasi
Dalam kegiatan mengajar perluh diberikan kesempatan pada siswa untuk berpartisipasi dalam seluruh kegiatan belajar. Dengan demikian kebutuhan siswa akan kasih sayang dan kebersamaan dapat diketahui, karena siswa merasa dibutuhkan dalam kegiatan belajar itu.

e)      Penghargaan dengan hukuman
Pemberian penghargaan itu dapat membangkitkan siswa untuk mempelajari atau mengerjakan sesuatu. Tujuan pemberian penghargaan berperan untuk membuat pendahuluan saja. Pengharagaan adalah alat, bukan tujuan. Hendaknya diperhatikan agar penghargaan ini menjadi tujuan. Tujuan pemberian penghargaan dalam belajar adalah bahwa setelah seseorang menerima pengharagaan karena telah melakukan kegiatan belajar yang baik, ia akan melanjutkan kegiatan belajarnya sendiri di luar kelas. Sedangkan hukuman sebagai reinforcement yang negatif tetapi kalau diberikan secara tepat dan bijak bisa menjadi alat motivasi. Mengenai ganjaran ini juga dijelaskan dalam Al-Qur’an surat An-Nisa’ ayat 124 berikut ini :
ومن يعمل من الصالحات من ذكر او انثى وهو مؤمن فأولئك يدخلون الجنة ولا يظلمون نقيرا
Artinya:
Barang siapa yang mengerjakan amal-amal soleh baik laki-laki maupun wanita sedang ia seorang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walaupun sedikitpun.  (QS. An-Nisa’ : 124)[40]  



6. Teori  Motivasi Belajar

Peran motivasi sangat penting dalam kegiatan belajar mengajar dan meningkatkan hasil belajar. Sehingga motivasi sangat diperlukan di madrasah, karena mungkin ada komponen-komponen dalam belajar mengajar yang kurang menarik bagi anak. Untuk itu tugas guru adalah membangkitkan motivasi anak sehingga ia mau belajar. Sebab keterlibatan anak secara aktif dalam kegiatan belajar mengajar sangat diperlukan agar belajar menjadi efektif dan dapat mencapai hasil yang diinginkan.[41]
Namun memberikan motivasi (khususnya motivasi ekstrinsik) bukanlah pekerjaan yang mudah. Motivasi yang berhasil bagi seorang anak atau suatu kelompok mungkin tak berhasil bagi anak atau kelompok lain.[42] Dalam hal ini guru harus berhati-hati dalam menumbuhkan motivasi bagi kegiatan belajar para peserta didik. Sebab, maksudnya memberikan motivasi tetapi justru tidak menguntungkan perkembangan belajar siswa.[43]
Ada beberapa bentuk cara memberikan dan menumbuhkan motivasi dalam kegiatan belajar mengajar di madrasah, yakni :[44]
a.       Memberi angka
b.      Memberi hadiah
c.       Membuat suasana persaingan atau kompetensi
d.      Memberi hasrat untuk untuk belajar
e.       Memberi ulangan
f.        Memberitahukan hasil ulangan
g.       Memberi pujian
h.       Memberi hukuman
i.         Menimbulkan minat

7. Cara Memotivasi Belajar
Dari penelitian – penelitian menunjukkan, bahwa sukses belajar tidak hanya tergantung pada intelegensi si anak, melainkan tergantung pada banyak hal, diantaranya motif-motif. Oleh karena itu upaya menimbulkan tindakan belajar yang bermotif sangat penting. Seperti kita ketahui, latarbelakang motif terutama adalah adanya kebutuhan yang dirasakan oleh anak didik. Maka menyadarkan si anak didik terhadap kebutuhan yang diperluhkan berarti menimbulkan motif belajar anak. Anak didik, terutama yang masih sangat muda, banyak yang belum mengerti arti belajar dan yang dipelajari; untuk pelbagai bahan pelajaran dipelajari dan apakah dipelajari berguna bagi kehidupan dimasa depan, belumlah ia sadari.
Mereka umumnya baru merasakan kebutuhan biologis. Sedang manusia hidup dalam masyarakat, bukan menyendiri; masyarakat tempat pelbagai kemampuan dan kecakapan dituntutnya. Anak harus belajar dan harus mengerti mengapa harus belajar. Maka menyadarkan dan meyakinkan anak akan arti terdidik bagi kedudukan orang dalam masyarakat, menyadarkan dan meyakinkan akan manfaat bahan-bahan pelajaran yang disajikan oleh madrasah bagi kehidupan kelak sesudah meninggalkan madrasah dan sebagainya merupakan usaha-usaha memotivasikan tindakan belajar si anak.
Dalam sejarah Ovide Decroly misalnya, terkenal sebagai orang yang memperhatikan peranan dari pada motivasi dalam belajar. Bahan-bahan pelajaran dipilihnya dengan teliti dan didasarkan pada pokok-pokok yang disebutnya sebagai pusat-pusat minat atau “center d’interset”, Untuk itu diseledikinya berbagai kecenderungan yang ada pada anak, terutama dorongan memperoleh kepuasan diri. Dengan cara demikian dibedakan empat pusat minat pada, yaitu yang berhubungan dengan makanan, pakaian, pertahanan diri dan permainan diri dan permainan atau pekerjaan. Maka jelaslah bahwa belajar itu harus disertai motif. Tanpa motif, tindakan belajar tidak akan mencapai hasil yang memadai.
Kerapkali kebutuhan yang diperlukan untuk mencapai tujuan yang tertentu kurang disadari oleh anak, sehingga guru atau madrasah harus membuat tujuan sementara atau buatan. Sebagai contoh, guru atau madrasah tentu ingin mengarahkan belajar ke tujuan yang tertentu dan untuk itu diperlukan adanya peningkatan aktivitas belajar anak. Tetapi usaha peningkatan ini tidaklah mudah, maka diciptakanlah tujuan buatan (artificial). Misalnya dikeluarkanlah peraturan atau janji, bahwa barang siapa dapat menunjukkan prestasi belajar yang paling baik di kelasnya, akan mendapatkan gelar “bintang kelas”, atau yang paling baik prestasi belajarnya di madrasah akan mendapat gelar “bintang madrasah”. Maka murid-murid akan saling berlomba, mereka berusaha belajar dengan giat, karena memperoleh gelar “bintang” tersebut sudah merupakan kebutuhan, dalam hal ini kebutuhan sosial.
Dengan gelar itu mereka merasa memperoleh penghargaan, kehormatan, bahkan simbol pujian, terutama dari orangtuanya. Maka kini tindakan belajar mereka sudah merupakan tindakan bermotif, yaitu berdasar adanya kebutuhan yang dirasakan dan terarah kepada tercapainya tujuan, yaitu mendapat “piagam” atau dan sebagainya. Itu bagi si anak didik. Tetapi dilihat dari pihak madrasah atau guru pemberian piagam atau tanda lain itu bukanlah tujuan pendidikan yang hakiki, melainkan sebagai alat untuk menimbulkan tindakan belajar yang beromotif, yang dengan faktor itu diharapkan akan tercapai tujuan pendidikan yang sesungguhnya. Proses penggunaan tujuan buatan (sementara) untuk menimbulkan aktivitas yang diperlukan dalam mencapai tujuan yang sesungguhnya merupakan proses kondisioning. Tujuan buatan, yang dimaksudkan agar dikejar oleh anak didik dengan aktivitasnya itu lazim disebut sebagai reinfocer[45].
Robert H. Davis mengemukakan 9 prinsip belajar mengajar yang dapat memotivasi siswa agar mau dan dapat belajar sebagai berikut:
a.       Prinsip Prerikwisit (Prasyarat)
Siswa terodorong untuk mempelajari sesuatu yang baru bila telah memiliki bekal yang merupakan prasyarat bagi pelajaran itu. Bila guru mengabaikan hal ini bisa menimbulkan kebosanan bagi siswa-siswa yang telah menguasai dan sebaliknya atau menimbulkan frustrasi bagi siswa-siswa merasa sukar dan tidak dapat menguasainya.
b.      Prinsip Kebermaknaan
Siswa termotivasi untuk belajar bila materi pelajaran itu bermakna baginya. Oleh sebab itu hendaknya guru dalam menyampaikan materi pelajaran dihubungkan dengan apa yang dialaminya, dihubungkan dengan kegunaan di masa depan dan dihubungkan dengan apa yang menjadi minatnya.
c.       Prinsip Modeling
Siswa termotivasi untuk menunjukan tingkah laku bila sekiranya tingkah laku itu dimodelkan oleh gurunya (Performance Modeling). Dalam hal ini siswa akan lebih suka menuruti apa yang dilakukan oleh gurunya dari pada yang dikatakan, sehingga di sini berlaku prinsip “The Medium is the Message”.
d.      Prinsip Komunikasi Terbuka
Siswa termotivasi untuk belajar bila informasi dan harapan yang disampaikan kepadanya terstruktur dengan baik dan komonikatif. Dalam hal ini Bruner meyarankan agar pengajaran menjadi lebih efektif perlu materi pelajaran distrukturkan dengan baik dengan pengolahan pesan yang komunikatif. Salah satu contoh dari prinsip ini ialah: perumusan dan pemberitahuan tujuan instruksional dengan jelas, menggunakan kata-kata yang sederhana sehingga mudah dimengerti oleh siswa.

e.       Prinsip Atraktif
Siswa termotivasi untuk belajar pesan dan informasinya disampaikan secara menarik (atraktif). Oleh karena itu guru harus selalu berusaha menyajikan materi pelajaran dengan cara manarik perhatian, dan alangkah baiknya kalau setiap materi pelajaran dapat diikuti dan diterima siswa dengan perhatian yang cukup intensif.
f.        Prinsip Partisipasi dan Keterlibatan
Siswa termotivasi untuk belajar apabila merasa terlibat dan mengambil bagian aktif dalam kegiatan itu. Dengan demikian guru perlu menerapkan konsep kurikulum berbasis kompetensi (KBK) dalam pelakasanaan proses belajar mengajar, karena dengan konsep ini siswa mengalami keterlibatan intelektual emosional di samping keterlibatan fisik didalam proses belajar mengajar.
g.       Prinsip Penarikan Bimbingan Secara Berangsur
Siswa termotivasi untuk belajar jika bimbingan dan petunjuk guru berangsur-angsur ditarik. Penarikan itu mulai dilaksanakan bila siswa-siswa sudah mulai mengerti dan menguasai apa yang sudah dipelajari.
h.       Prinsip Penyebaran Jadwal
Siswa termotivasi untuk belajar bila program-program belajar mengajar dijadwalkan dalam keadaan tersebar dalam periode waktu yang tidak terlalu lama. Program-program belajar mengajar dalam waktu yang lama dan secara berturut-turut cenderung akan membosankan siswa.

i.         Prinsip Konsekuen dalam Kondisi yang Menyenangkan
Siswa termotivasi untuk belajar bila kondisi instruksionalnya menyenangkan, sehingga memberi kemungkinan terjadinya belajar secara optimal.
Motivasi yang bersifat intrinsik mempunyai peranan yang ampuh dalam peristiwa belajar, tetapi walaupun memberikan tugas. Dalam memberikan tugas kepada murid-murid harus dilihat dan diingat hubungan tingkat kebutuhan murid dan tingkat motivasi yang akan dikenakan. Guru harus cerdik melibatkan “ego involement” murid. Bila motivasi tersebut dikenakan secara tepaat akan menyentuh ego involvement murid, sehingga setiap tugas yang memberikan akan dianggap sebagai tantangan, hal ini menyebabkan yang bersangkutan akan mempertahankan harga dirinya untuk menyelesaikan tugasnya dengan penuh semangat. Murid akan merasa puas dan harga dirinya timbul bila dapat menyelesaikan tugas yang diberikan.[46]


[9] Tadjab MA Ilmu Pendidikan. Karya Abditama Surabaya 1994 hlm: 101
[10] Sardiman A.,1990. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. CV. Jakarta: Rajawali Pers, hlm: 73
[11] Tabrani Rusyan, dkk, 1989. Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: CV. Remaja Rosdakarya, hlm:95
[12]  Heinz Kcok, 1991. Saya Guru Yang Baik, Yogyakarta: Kanisius, hlm:69
[13]  Wayan Ardhana, 1985. Pokok-pokok Jiwa Umum. Usaha Nasional. Surabaya : hlm: 165
[14] Muhibbin Syah. 2002. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, hlm 136
[15] Suryadi Suryabrata,1984. Psikologi Pendidikan, Jakarta: Rajawali Press,  hlm: 248
[16] L, Crow dan A. Crow, 1989. Psychology Pendidikan, Yogyakarta: Nurcahaya, hlm: 279
[17] Depag, 1989. Al-Qur’an dan Terjemahan, hlm: 563
[18] Mulyadi,1991. Psikologi Pendidikan, Malang: Biro Ilmiah, FT. IAIN Sunan Ampel, hlm.87
[19] Tadjab MA, Op.Cit. hlm: 102
[20] Sardiman, Op,Cit, hlm: 75
[21] Kurt Singer, 1987. Membina Hasrat Belajar, terj. Bergman Sitorus, Bandung : CV Remadja Karya, hlm 79

[22] Sarlito Wirawan Sarwono, Pengantar UmumPsikologi, (Jakarta: Bulan Bintang,t.th), hlm 64
[23] Singgih Dirgagunar, Pengantar Psikologi, (Jakarta: Mutiara, t.th), hlm. 108.
[24] Soemadi Soerjabrata, 1981. Psikologi Pendidikan, Yogyakarta : Rake Press hlm 85
[25] W.S. Winkel, 1989. Psikologi Pengajaran. Jakarta: PT. Gramedia, hlm 105
[26] W.S. Winkel, 1983. Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar. Jakarta: PT. Gramedia, hlm 30
[27] Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1990), hlm. 32
[28] Agus Sujanto, Psikologi Umum, (Jakarta: Aksara Baru, 1985), hlm. 98
[29]Tafsir, Metodologi Pengajaran Pendidikan Islam (Bandung: Rosdakarya, 1993), hlm. 146
[30] Sardiman, op.cit., hlm. 82-83
[31] Sardiman, Op.Cit. hlm: 104
[32] Tabrani. Op.Cit. Hlm: 120
[33] Moh Uzar Usman, 2002. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, hlm:29
[34] Heinz Kcok. Op.Cit. hlm:71
[35] Suryadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, Rajawali Press Jakarta. 1993. hlm:72
[36] S. Nasution. Didaktik Asas-asas Mengajar. Jemmars. Bandung. 1986. hlm:20
[37] Tabrani Rusyan. Op.Cit. hlm: 123
[38] Sardiman. Op.Cit. hlm: 84
[39] Mulyadi. Psikologi Pendidikan. Biro Ilmiah Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Malang, 1991. hlm: 92-93
[40] Departement AgamaRebuplik Indonesia Al-qur’an dan Terjemahannya Hal; 124
[41] Muh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2000, Cet. II, Hal. 27-29
[42] S. Nasution,  Didaktik Asas-Asas Mengajar, Jakarta: Bumi Aksara, 2000, Ed. II, Cet. 2, Hal. 73
[43] Sardiman A. M, Op.Cit, Hal. 91
[44] Ibid, Hal. 91-94
[45] Ahmad. Thanthowi, Psikologi Pendidikan. PT. Angkasa Bandung 1991. hlm : 72-73
[46] Mulyadi OP, Cit, Hal: 28-31.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar